Kecuali Pintu Langit Saja

Anakku mulai menerima berbagai jenis suntikan, sementara ia memelas-melas kepadaku…

Salah seorang ulama as-Salaf berkata: “Ada sebagian dosa yang hanya dapat diampuni dengan kesedihan terhadap anak istri..” Seseorang menceritakan kepadaku untuk meyakinkan hal itu: “Sesungguhnya keluarga adalah penyumpal kenyataan ini, bukan sekedar rajutan khayal, bukan pula sebuah dongeng. 

Aku adalah seorang ayah. Anakku selalu mencari fokus pembicaraan. Usai bulan Ramadhan, dan seiring dengan kedatangan hari Ied, kuperhatikan bahwa anakku Abdullah yang baru berusia 2 tahun setengah terlihat lemah sekali, dan panas tubuhnya meningkat drastis.
Senyumannya sirna, dan kecerahan wajahnya terlihat layu. Ia belum terbilang mahir berjalan, namun kini justru menjadi lemah secara tiba-tiba. Pandangannya kosong dan suaranya terputus-putus, mencari tempat untuk berbaring… Kami segera mengompres dan memberinya obat penenang sambil berusaha mencari dokter. 

Tetapi panas tubuhnya kembali meningkat. Tak ada pilihan lain, tidak ada lagi waktu untuk bermusyarah… Semua rumah sakit segera tergambar dalam benakku. Tetapi kami sekarang dalam liburan, maka kami pun memutuskan untuk mencari dokter jaga. Aku berkata kepada ibunya sambil menggendong anak tersebut: “Jangan khawatir. Anak-anak biasa seperti itu.” 

Aku terus berbicara untuk menenangkan jiwanya sebelum menutup pintu. “Anak kecil itu mudah sekali terkena penyakit, namun juga mudah sembuh. Tenangkan pikiranmu dan bertawakallah kepada Allah..” Setelah berjalan tersendat-sendat karena kemacetan, sinar dari luar menyilaukan matamu. Kemudian engkau masuk ke dunia lain, menaiki jenjang-jenjang rumah sakit… 

Dunia yang lambat, menyembunyikan segala senyuman. Tidak ada tempat di situ buat kesombongan dan sikap semena-mena. Manusia dalam dunia ini amat lemah, lemah sekali. Ada yang tertunduk kepalanya, ada yang memegangi perutnya dengan kedua tangannya, ada lagi yang mengerang dengan rintihan yang mencegah kesunyian, namun tidak diketahui mana orangnya.. Adapun orang-orang yang terluka dan darah yang mengucur, bisa engkau lihat setiap saat, diawali dengan suara mobil ambulance di luar rumah sakit, tak lama kemudian engkau akan melihat dengan mata kepalamu. Engkau tidak mengingat bahwa ada yang dinamakan dengan kondisi sehat wal afiat, kecuali bila engkau telah berada di tempat ini.

Di pojok kamar, terdapat orang tua berumur delapan puluh tahunan, seorang yang lanjut usia terlihat sudah kehilangan segala sesuatu!! Pandangannya kosong, ke kiri dan ke kanan, mencari di mana dokter, mencari obat. Engkau tidak akan merasakan kenikmatan sehat, kecuali bila engkau melihat dan menyaksikan kejadian itu… Bisa jadi engkau akan melihat orang yang tampak sehat, tetapi berjalan lambat dan melompat-lompat seperti hendak menyeberangi lautan di mana orang-orang yang sakit… Kondisi putraku menjadi ringan bagiku, begitu kulihat bahwa rasa sakit itu ternyata memeras kondisi semua orang di situ.. 

Kami diberi berbagai macam obat. Aku sudah mencium bau kesehatan ketika keluar dari rumah sakit itu.. Pada hari pertama, kesehatannya sudah membaik sedikit. Namun setelah obat habis, panas itu datang lagi. Kami pun kembali ke dokter. Ketika aku menjelaskan kondisi anaakku, terlihat dalam pandangan mataku kegelisahan dan kegoncangan. 

Dokter itu berusaha menenangkan diriku: “Jangan khawatir.” Lalu dia memberikan kepada kami obat-obatan yang sama seperti sebelumnya..!! Kami gembira membawa obat tersebut. Namun kondisinya kembali seperti sebelumnya. Berulang-ulang kami berobat ke sana selama lima minggu berturut-turut, namun tidak ada hasilnya. Aku mulai dirundung rasa takut, sementara ibunya lebih takut lagi. Pembicaraan kami tinggal: Anak kita mulai melemah dan berkurang selera makannya. Berjalanpun ia lambat dan merasa sakit di tulang-tulangnya.

 Ibunya melihat wajahnya pucat sekali… Dengan kondisi begini ia tidak hanya membutuhkan konsumsi obat dan pemeriksaan segera saja, tetapi harus diopname dan pemeriksaan lengkap. Aku merasa bahwa ada sesuatu, dan pasti ada hari-hari panjang yang menunggu kami. Aku mencium keningnya dan membawanya ke bagian rawat inap. Anakku mulai menerima berbagai jenis suntikan, sementara ia memelas-melas kepadaku. Aku hanya dapat memeganginya dengan kuat dan menyerahkannya untuk menerima suntikan… 

Suaranya melengking keras, rintihannya pun terdengar kuat, sementara air matanya mengalir dan berjatuhan di tanganku, dan aku tetap memeganginya.. Air mata itu seolah berbicara kepadaku: “Kebekuan hati macam apa ini wahai ayahku?” Ada sesuatu dalam hatiku yang terbakar, dan dalam dadaku terasa jantungku mencair… Air matamu wahai anakku, hanyalah sebuah titik di lautan luas. Wahai anakku, aku bukanlah patung dan hatiku bukanlah batu.. 

Beberapa hari berlalu sementara kami menanti-nanti. Setiap kali dokter menemui kami, kami selalu berusaha mendengar jawaban darinya. Kami menantikan kalimat yang dapat memberi harapan. Lukanya telah diobati. Namun meski banyak sudah pemeriksaan dilakukan, tidak juga membawa hasil!! Satu-satunya jawaban adalah, penyakit dalam darah.. Penurunan kesehatan anakku semakin bertambah, sehingga tidak mampu lagi untuk duduk, apalagi berdiri. Pandangan matanya yang tajam mengejarku terus setiap kali aku menghadap ke arahnya. Ada pertanyaan di kedua belah matanya: “Kapan aku keluar dari sini?”

Sinar harapan akan kesembuhannya mulai mengabur, ketika aku mendengar dokter itu berbicara kepada temannya: “Meskipun tubuhnya lemah sekali, tetapi kita tidak dapat mentransfusi darah kepadanya, karena itu akan mempengaruhi hasil pemeriksaan.. Dalam kondisi demikian, hari-hari berjalan lambat sekali, sementara anakku mulai kehilangan hidupnya… Dokter meminta kepada kami untuk memeriksakan sumsum tulangnya, karena itu ibarat pabrik darah bagi manusia. Aku pun menyetujuinya tanpa ragu-ragu lagi, sementara hatiku bagaikan diperas menahan sakit, ketika aku melihat kepalanya. Tulang tengkoraknya kecil. 

Aku merasakan bulatan kepalanya itu dengan tanganku, seolah-olah aku mencari kesembuhan itu sendiri.. Setelah anakku dibius, diambillah sampel sumsum tulangnya. Dokter memintaku untuk memeriksakan ke rumah sakit spesialis. Aku berjalan membawa sampel sumsum itu. Mataku melotot sementara hatiku bergantung kepada Rabb dari langit ini, aku tidak lagi merasakan nikmatnya hidup dan nyamannya tidur… 

Aku menyerahkan sampel itu kepada petugas laboratarium yang sudah disertai oleh jenis pemeriksaan yang dibutuhkan. Aku pun gembira. Mudah-mudahan hasil pemeriksaan ini dapat menghilangkan sakit yang dirasakannya. Pada hari kedua, setelah masa-masa berlalu dengan lambat sementara detak jantungku berlomba dengan detak jarum jam. 

Aku tidak mampu lagi memikirkan segala sesuatu. Aku menerima gagang telepon itu. Mudah-mudahan hasilnya sudah didapat. Aku menanti-nanti kesembuhan anakku… Telingaku kembali lagi dapat mendengar dendang tawanya. Aku juga ingat bagaimana ia berlari untuk menyambut diriku, juga ketika ia duduk di atas punggungku dan juga ciumannya di keningku. 

Dalam lantunan kegembiraan, ia menjawab dengan kata-kata yang meresahkan yang telah mencabik-cabik angan-anganku, mencerai-beraikan mimpi-mimpiku, memancarkan darahku di pembuluh darahku dan meninggalkan gemanya berbunyi di telingaku. Hatiku trenyuh dan air mataku pun berderai. Namun aku mengangkat jariku sambil berujar: “Alhamdulillah…” Dokter berkata: “Penyakit anakmu adalah kanker darah…” Berjalanlah waktu yang panjang, beku dan penuh kedukaan. Dunia terasa redup di pandangan mataku.

 Kedua kakiku tak mampu melangkah, seolah-olah jalan dihadapanku adalah jalan buntu, pintu-pintu tertutup, akan tetapi aku teringat masih ada satu pintu yang terbuka: pintu langit… Aku gembira dengan keteguhan ini.. Alhamdulillah dan terus aku lanjutkan. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Jiwaku menyusul dan bergerak dengan berat. 

Dalam otakku berputar beberapa pertanyaan yang memiliki permulaan namun tidak pernah berakhir: “Sebentar lagi aku akan berpisah dengan anakku, bagaimana aku mengabarkan ini kepada ibu dan saudara-

saudaranya? Bahkan bagaimana aku memandang kepadanya? Apakah dengan pandangan perpisahan? Atau dengan pandangan harapan? Berbagai pertanyaan datang silih berganti dan susul-menyusul mengetuk hatiku. Kemudian datang satu pertanyaan yang membuatku beranjak dari tempatku. Aku melompat dan berlari dengan kuat: “Apakah aku akan berjumpa dengannya di rumah sakit? Atau ia sudah meninggal dunia?” Berbagai perasaan saling tindah menindih. 

Berbagai pertanyaan saling mengguntur. Aku membawa kakiku untuk berjalan di lorong-lorong rumah sakit sambil mengumpulkan kekuatan untuk berbicara.. Ibunya ada di sisinya dengan kegembiraan. Kabar gembira? Apa hasilnya? Jawaban bagi kebingunganku lebih besar dari kebingungannya. Kebutuhanku untuk diam membungkam lebih besar dari kebutuhannya akan jawaban. Kelayuan dan kesuraman membayang di tempat tidur lagi. 

Aku menanti dengan cemas waktu demi waktu, menit demi menit. Kemudian ia akan diangkut ke Riyadh. Sedetik rasa bertahun-tahun dan semenit rasa berwindu-windu, berlalu dengan lambat dan berat. Akhirnya setelah lelah dan capek, ia pun dipindahkan… Pada sore hari yang panjang, dan dalam sebuah perbincangan yang panjang pula.. Kesedihan menyelimuti sekeliling kami, rasa sakit seolah menegakkan panjinya di hati kami. Besok hari Raya Iedul Adha…

 Satu waktu antara dua hari Raya Ied, seolah terdapat satu Ied lagi, yang dalam kondisi bagaimanapun engkau pasti datang, wahai Ied. Bersabarlah dan berharaplah pahala dari Allah. Apapun yang ditakdirkan oleh Allah pasti akan terjadi. Aku mengusap kesedihan dari hatiku dan berdoa kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa doaku akan dikabulkan.. 

Pada hari kedua setelah Ied… Terdengar teriakan anak-anak kecil yang mengusik telingaku, juga suara bercakap-cakap memperingatkan kegembiraan hati, ditambah ucapan selamat dari setiap lisan kaum muslimin… Masalah yang dialami oleh Abdullah anakku berbeda. Ia justru meringkuk di tempat tidur menahan sakit. Aku memandanginya ketika ia sedang berbaring di atas kasurnya, berbolak-balik, tidak dapat bergerak bebas. Ia membuka kedua matanya dengan susah untuk menyakinkan bahwa aku ada di situ. Pandangan yang sulit dimengerti maksudnya. 

Aku mengusap air mata yang mengalir dari mataku karena melihatnya. Kondisi dan rasa sakit yang kualami bercerita: Ketabahan enggan menerima segala tanda-tanda musibah yang kusaksikan Aku melihat segala tali selain tali-Mu ya Allah pasti terputus Setiap kali aku berdoa dengan menyebut nama-Mu tidak juga Engkau kabulkan Padahal aku pantas untuk Engkau lihat dan Engkau dengarkan

Pada hari ini pengobatan secara kimiawi dilakukan terhadap anakku. Tahukah pembaca apa yang dimaksudkan dengan pengobatan kimiawi? Yakni suntikan bercampur gizi makanan yang dimasukkan melalui darah untuk menghancurkan sel-sel busuk dan diganti dengan sel-sel bagus. Pengobatan itu membutuhkan waktu lama dan intensif selama tiga tahun.. Selama tiga bulan anakku dibius total untuk bergulat dengan penyakit dan agar tidak merasakan rasa sakit obat kimia itu selama tiga pekan. Akhirnya ada perkembangan baik sedikit. 

Ia mulai dapat berjalan dengan lambat dan gemetar. Dokter menyatakan kepada kami bahwa ada harapan ia akan diobati di kota kami itu. Dia melihat kesulitan yang kualami selama tinggal sendirian dengan anakku, sementara ibu dan saudara-saudaranya di sana. Aku segera membawa anakku meninggalkan rumah sakit. Rasa duka dan kegundahan menggiring diriku. Seorang anak yang sedang bergulat dengan maut, dan di sana seorang ibu yang sedang bergulat dengan kesedihan, di sini seorang ayah sedang bergulat dengan hidupnya. 

Ada satu pertanyaan di mata anakku: “Kemana lagi engkau akan membawaku wahai ayahku? Tidakkah engkau lelah menggotongku? Kita hendak pergi ke rumah sakit lain, atau ke rumah kita saja? Aku ingin melihat ibuku…” Kami tinggal sebentar saja, lalu kami terpaksa kembali lagi setelah dua bulan. Satu minggu setelah kami tinggal di rumah sakit, kami melakukan pemeriksaan lagi.. Kegembiraan masih memberi tempat, dan kebahagiaan mengelilingi kami. Akan tetapi datang hal yang mengejutkan kami… 

Penyakit anakku kembali kambuh, fase yang menyebabkan datangnya kekhawatiran. Aku terserang goncangan yang memeras perasaan. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana aku harus berbuat? Sel-sel kanker itu kembali aktif. Harus diadakan pengobatan ulang dari awal lagi. Harus diulang lagi program pengobatan itu dari awal, dengan lebih intensif lagi.. Dokter itupun terpengaruh ketika membaca hasil pemeriksaan. Kemudian ia berkata seolah-olah meneriakkan rasa sakit anakku: “Kalau anda mau, biar pengobatan itu kita mulai lagi dari awal di sini, atau kembali ke Jeddah.” “Lebik baik kembali ke Jeddah saja,” jawabku. 

Aku memegangi hasil pemeriksaan anakku itu dan membawa anakku ke luar rumah sakit tersebut. Suara dokter menyusulku dengan cepat: “Jangan lupa segera memberi pengobatan dan jangan melalaikannya. Kondisi anak itu mengkhawatirkan.” Aku mengetuk pintu rumah sakit-rumah sakit… Anakku harus menanggung suntikan yang tidak biasa diterima oleh orang besar sekalipun. Tak ada lokasi baru pada tubuhnya yang belum tersentuh jarum suntik. Dokter sendiri sampai bingung di mana lagi ia harus menusukkan jarum suntiknya. Anakku harus menanggung rasa sakit, jauh dari ibu dan saudara-saudaranya yang banyak, mengenali muka-muka dokter dan bermacam-macam obat..

Adapun aku sendiri, juga sudah hafal berbagai rumah sakit. Karena semuanya sudah menjadi tempat tinggalku sehari-hari. Tangis, teriakan dan jeritan anakku ketika ia meminta tolong, sudah tidak berarti lagi bagiku. Ia biasa meminta tolong kepadaku karena saking sakitnya. Tetapi aku tidak memiliki daya apa-apa wahai anakku..

 Semua pintu sudah diketuk, kecuali pintu Allah. Segala pintu juga sudah tertutup, kecuali pintu Allah… “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan..” (An-Naml: 62) 

Pada saat itu aku mendengar ada seorang Syaikh yang sudah biasa mengobati dengan ruqyah Al-Qur’an. Sebagian rekan mengusulkan aku untuk mencobanya. Alhamdulillah, ruqyah dengan Al-Qur’an memang obat,. Namun hawa nafsu mendebatku. Banyak yang harus dipikirkan. Pikiranku sendiri menjadi bercabang-cabang. Bagaimana aku akan meninggalkan kedokteran modern? Bisa jadi, bisa jadi? Sebelum pergi, aku beristikharah meminta pilihan dari Allah.. Malam itu aku tidur dan dalam tidurku aku bermimpi bahwa aku berdiri di pinggir lautan. 

Dan air di pinggir laut itu dangkal. Pada bagian tertentu terdapat tanah yang menonjol tampak oleh mata, tidak tersentuh air laut. Tiba-tiba terlihat lubang di bawah lautan, keluar dari laut itu yang biasa disebut sebagai kepiting laut (Sea Cancer) dan pergi jauh-jauh. Aku bangun dari tidur. Pada malam itu, jiwaku sudah menjauh dari rasa takut akan kambuhnya penyakit anakku itu. Aku mengabarkan mimpi itu kepada orang yang kupercaya… 

Ia berkata: “Bergembiralah, mudah-mudahan itu kebaikan bagimu insya Allah. Tanah dalam mimpi adalah manusia. Sementara kepiting yang keluar itu adalah penyakit yang keluar darinya insya Allah.” Aku terima kabar gembira itu. Aku pun memutuskan untuk pergi menemui ulama yang biasa membacakan ruqyah itu untuk meruqyah anakku dengan Al-Qur’an… Di tengah penuh sesak orang-orang yang sakit, terdapat kenyamanan jiwa yang kurasakan. Kisah-kisah kesembuhan menghiasi tempat itu… Sinar harapan itu tampak mulai melongok diriku. Awan kebajikan mulai menaungi diriku.. Selesai sudah pembacaan Al-Qur’an kepada anakku.

Ia meminta kepadaku untuk mengulanginya sebanyak tiga kali setiap minggu. Ia juga meminta diriku untuk turut juga membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepadanya.. Aku memutuskan untuk berhenti berobat ke rumah sakit, karena aku tidak bisa mengajaknya keluar selama mulai menjalankan pengobatan kimiawi.. Tiga minggu pun berlalu. Pada masa itu, kondisi anakku membaik. Setiap waktu pengobatan, aku pergi dari Jeddah ke Riyadh, kemudian kembali lagi. Aku menanggung rasa lelah dan kesulitan yang besar sekali..

Tatkala selesai waktu pengobatan ruqyah yaitu selama tiga minggu. Aku memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Tetapi harus menunggu hingga ada kamar kosong.. Aku mendaftarkan nomor teleponku di rumah sakit itu, dan aku pun diberikan dispensasi untuk masuk, karena aku sudah terlambat untuk berobat. Anakku itupun dimasukkan, dan kata mereka, tidak boleh membuang-buang waktu meskipun satu menit… 

Beberapa hari berlalu… Tiba-tiba telepon berdering. “Coba anda datang. Kami ingin mengambil contoh sumsum tulang anak anda. Hendaknya ia berpuasa. Aku pun membawa anakku. Aku bingung, diiringi pula oleh rasa sakit yang dialami anakku yang masih kecil dan teriakannya… Aku pergi ke rumah sakit. Aku juga berdoa kepada Allah agar tidak kembali ke rumah sakit itu sekali lagi.. Contoh sumsum itupun diambil. Aku pun kembali ke rumah… Masalah kami sekarang ini: antara pemeriksaan dan hasilnya. Satu minggu penuh… Kami membiarkan urusan itu untuk diselesaikan: Apa yang akan terjadi? Di mana? Dan bagaimana? 

Di lokasi pemeriksaan, kakiku melangkah cepat. Aku merasa bahwa ada kebaikan yang menantikanku di sana… Aku duduk bersama dokter untuk bertanya kepadanya. Dan jawabannya sungguh menggetarkan lubuk hatiku yang paling dalam. Aku meyakinkan diriku bahwa aku dalam keadaan sadar ketika mendengar ucapannya. Membuat lemah pendengaranku dan menentramkan anggota-anggota tubuhku. Pada masa di mana sudah tidak ada lagi kesempatan bagi kegembiraan dalam hatiku, aku mencari anakku ke kanan dan ke kiri untuk menciumnya, untuk melihat kedua matanya, dan untuk mengusap air mataku… 

Aku menoleh mencari tempat untuk melakukan sujud syukur kepada Allah. Siapa yang lebih berhak untuk mendapatkan selain Allah? “Setelah mengalami kekambuhan kira-kira berbilion-bilion sel, kini tidak ada lagi bekas dari sel-sel penyakit kanker itu.” Dokter itu melanjutkan: “Itu disebut sebagai kondisi tersembunyi. Yakni tidak tampaknya sel-sel itu ketika diperiksa. Itu harus dicermati, untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. 

Aku pun keluar… Aku menoleh untuk mencari telepon dan mengabarkannya kepada istriku. Tetapi langkah-langkahku lebih cepat daripada pandanganku.. Aku memuji Allah atas kenikmatan Islam, kenikmatan diturunkannya Al-Qur’an. Air mata kesedihan telah mengalir di hari-hariku yang panjang. Adapun sekarang, bukan sekedar air mata kegembiraan semata, bahkan air mata kegembiraan dan rasa syukur. Aku mengembalikan ingatanku:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu.” (Fushshilat: 53)

 Aku melihat bukti ayat itu dalam diriku, dan aku hidup bersamanya dalam rumahku… Di sini, di antara tumpukan hasil pemeriksaan medis, di antara angka-angka dan berbagai berkas pemeriksaan lainnya… Di antara tangisan anak dan kesedihan ibunya, juga kedukaan sang ayah… 

Maha Benar Allah Subhanallahu wa Ta’ala yang telah berfirman: “Kami turunkan dalam Al-Qur’an itu penyembuh dan rahmat bagi kaum mukminin…” (Al-Isra’: 82) 

Sumber: Perjalanan Menuju Hidayah karya Abdul Malik Al-Qasim (penerjemah: Abu Umar Basyir), penerbit: Darul Haq, cet. I, Ramadhan 1422 H /2001 M, hal. 240-255.

Komentar

Postingan Populer