Melihat Keheningan Dalam Diri Kita

islampos_nenek_tertawa
#Cerita 1
SUATU saat di sebuah kereta api ada seorang laki-laki yang marah-marah kepada seorang Ibu, laki-laki itu merasa terganggu dengan ulah anak sang Ibu yang terus berteriak-teriak dan “mengganggu” penumpang yang lain. Sang Ibu berkali-kali menyampaikan permintaan maafnya kepada sang laki-laki dan penumpang lain tapi sang laki-laki semakin emosi dan berteriak, “LOE TAHU GA? GUE UDAH KERJA SEHARIAN INI DAN GUE CAPEK BANGET, GUE UDAH STRES DAN GUE UDAH MUAK. KALO LOE GA BISA NGURUS ANAK, JANGAN JADI IBU SEKALIAN!” Mendengar itu, sang Ibu diam sambil menyeka air mata yang menetes.
Ternyata anak Ibu ini memang anak yang berkebutuhan khusus.

#Cerita 2
Suatu saat di perempatan lampu lalu lintas ada seorang kakek tua yang menghampiri sebuah mobil mewah untuk meminta sedekah. Sejenak kemudian sang pemilik mobil membuka kaca mobilnya lalu melotot sambil membentak, “KALO MAU DAPET DUIT, KERJA DONG! JANGAN MINTA-MINTA TERUS, UDAH TUA TAPI GA TAHU DIRI!” Sang kakek kaget dengan apa yang barusan dia alami.

# 3
Suatu saat di sebuah tempat makan ada beberapa wanita karir yang sedang asyik ngobrol satu sama lain, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menyodorkan permohonan sumbangan untuk anak yatim. Salah satu dari wanita tersebut mengibaskan tangannya sambil tidak menoleh untuk memberikan tanda mereka tidak bersedia memberikan bantuan. Setelah laki-laki itu pergi, para wanita ini membicarakan tentang maraknya penipuan dengan modus meminta sedekah.

Ada yang salah dari 3 cerita di atas? Sepertinya kita perlu melihat kembali keheningan (baca: nurani) dalam diri kita. Apakah nurani itu masih kita dengar atau masih terdengar tapi begitu lirih dan nyaris tanpa suara? Atau jangan-jangan telah mati karena tuntutan kemajuan jaman yang serba cepat dan modern ini. Diakui atau tidak, kita sedang digiring pada sebuah kehidupan yang individualis. Kita sibuk dengan diri kita sendiri, tentang target kerja (deadline), keinginan kita yang belum terpenuhi, masalah kita dengan rekan kerja, bla bla bla. Sehingga kita seperti tidak memiliki ruang dalam hati kita bagi orang lain. Atau sederhananya apakah kita masih bisa berempati pada orang lain?

Tidak ada yang salah dengan kemajuan jaman saat ini, yang salah adalah kita membiarkan nurani kita dikikis oleh “kepentingan-kepentingan pribadi” hingga kita sulit untuk berempati pada orang lain dan tidak lagi merasakan kebahagiaan untuk menjadi bagian hidup orang lain. Coba bayangkan apa menariknya ketika kita bahagia, kita tertawa sendiri dan betapa menyedihkannya ketika kita sedang jatuh atau bahkan menangis, tak ada seorang pun yang memeluk atau sekedar menepuk pundak kita sambil menyampaikan “Sabar ya, semua pasti akan berlalu.”

Saya pikir hidup itu tidak hanya untuk berpikir tapi juga untuk merasa. Yuk kita lihat nurani dalam diri kita.

Oleh: Ian Sobung

Komentar

Postingan Populer