Hargai momen penting dalam pernikahanmu, sebelum semuanya terlambat!

Awalnya kisah ini untuk koleksi saya saja. Sebuah kisah sederhana dalam kehidupan yang sederhana, tapi bisa membawa efek yang luar biasa bagi suatu hubungan pernikahan yang sudah di ujung tanduk. Kisah ini sudah sekitar sebulan yang lalu ada di folder saya, dan saya ingin membagikannya kepada Anda di sini. Inilah kisahnya:

Saat saya tiba di rumah malam itu, seperti biasa istri saya menghidangkan makan malam. Saya memegang tangannya dan berkata, “Saya punya sesuatu untuk saya katakan kepadamu.”

Dia duduk dan makan dengan tenang. Sekali lagi saya melihat ada luka di matanya. Tiba-tiba saya tidak tahu bagaimana untuk membuka mulut. Tapi saya harus membiarkan dia tahu apa yang saya pikirkan.

“Saya ingin bercerai.” Saya mengangkat topik dengan mencoba bersikap tenang.

Dia tampaknya tidak terganggu oleh kata-kata saya, sebaliknya dia bertanya dengan lembut, “Kenapa?”

Saya tidak menjawab pertanyaannya. Hal ini membuatnya marah. Dia membuang sumpit dan berteriak padaku, “Kamu bukan seorang pria!”

Malam itu, kami tidak saling berbicara. Dia menangis. Saya tahu dia ingin mencari tahu apa yang terjadi dengan pernikahan kami. Tapi saya tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Saya telah kehilangan hati saya untuk seorang gadis cantik yang bernama Dew, seorang wanita di tempat kerja saya. Dan saya telah jatuh cinta kepadanya. Saya tidak mencintai istri saya lagi. Saya hanya mengasihaninya!

Dengan perasaan yang amat bersalah, Saya menuliskan surat perceraian, yang menyatakan bahwa dia bisa memiliki rumah kami, 30% saham dari perusahaan saya dan mobil. Ia memandang surat itu sekilas dan kemudian merobeknya menjadi beberapa bagian. Wanita yang telah menghabiskan sepuluh tahun hidupnya dengan saya, kini telah menjadi seperti orang asing. Saya merasa kasihan padanya. Tapi saya tidak bisa mencabut kembali apa yang telah saya ucapkan, karena saya sangat mencintai Dew.

Akhirnya ia menangis dengan keras di hadapanku. Bagi saya, tangisannya merupakan suatu bentuk pembebasan untukku. Ide perceraian yang mengobsesi selama beberapa minggu ini tampaknya lebih kencang dan lebih jelas sekarang. Keesokan harinya, saya terlambat kembali ke rumah dan menemukan dia menulis sesuatu di meja. Saya tidak makan malam, tapi langsung ke tempat tidur dan tertidur dengan cepat karena saya lelah. Ketika saya bangun, dia masih ada di meja tulis. Saya tidak peduli, jadi saya berbalik dan tertidur lagi.

Di pagi hari ia mengajukan sebuah persyaratan untuk perceraiannya: dia tidak menginginkan apapun dariku. Dia hanya membutuhkan waktu satu bulan sebelum perceraian itu terjadi. Dia meminta agar untuk waktu satu bulan tersebut, kami berdua berjuang untuk hidup senormal mungkin, seperti tidak terjadi apa-apa. Alasannya sederhana: anak kami sedang menghadapi ujian dalam satu bulan ini dan dia tidak ingin mengganggunya dengan perceraian kami. Ini adalah menyenangkan bagi saya. Tapi dia memiliki permintaan yang lain. Dia meminta saya untuk mengingat saat-saat saya membawanya ke kamar pengantin pada hari pernikahan kami. Dia meminta agar setiap hari untuk jangka waktu satu bulan tersebut, saya membawa dia keluar dari kamar tidur menuju pintu depan setiap pagi. Saya pikir dia akan menjadi gila. Hanya untuk membuat hari-hari terakhir kami bersama-sama , saya bertahan untuk menerima permintaannya yang saya anggap aneh.

Saya bilang ke Dew tentang syarat perceraian istri saya. Ia tertawa keras dan berkata bahwa itu tidak ada gunanya. “Tidak peduli trik apa yang dia coba, dia harus menghadapi perceraian,” katanya mencemooh.

Saya dan istri saya tidak punya kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu secara eksplisit. Jadi ketika saya membawanya keluar pada hari pertama, kami berdua tampak canggung. Anak kami menepuk punggung kami, dan berkata, “Baba memegang Mama dalam pelukannya!” Kata-katanya mengantarkan rasa nyeri dalam hati saya. Dari kamar tidur ke ruang tamu, lalu ke pintu, saya berjalan lebih dari sepuluh meter dengan dia dalam lenganku.

Dia menutup matanya dan berkata lembut, “Jangan bilang anak-anak tentang perceraian kita”

Aku mengangguk, ada sedikit sedih yang menyeruak. Saya mengantarnya ke luar pintu. Dia pergi untuk menunggu bus untuk bekerja. Saya pergi sendirian ke kantor.

Pada hari kedua, kami terasa lebih mudah untuk melakukannya. Sudah tidak terlalu canggung lagi. Dia bersandar di dadaku. Saya bisa mencium wangi di bajunya. Saya menyadari bahwa saya tidak memperhatikan wanita ini dengan seksama untuk waktu yang lama. Saya memperhatikan bahwa dia sudah tidak muda lagi. Ada kerutan halus di wajahnya, dan rambutnya mulai beruban! Dia telah banyak berkorban untuk pernikahan kami. Untuk sesaat saya bertanya-tanya apa yang telah saya lakukan padanya.

Pada hari keempat, saya merasakan keakraban mulai tumbuh kembali. Ini adalah wanita yang telah memberi sepuluh tahun hidupnya untuk saya. Pada hari kelima dan keenam, saya menyadari bahwa kami telah mulai merasakan keakraban itu mulai menghangat diantara kami. Saya tidak memberitahu Dew tentang hal ini.

Pada saat tersebut anak kami masuk dan berkata,” Baba, waktunya membawa mama keluar”

Dia memilih baju apa yang akan dikenakan pagi itu. Dia mencoba beberapa gaun tapi tidak bisa menemukan yang cocok. Lalu ia menghela napas, semua gaunnya telah menjadi kedodoran. Saya tiba-tiba menyadari bahwa ia telah berubah. Dia tampak lebih kurus sekarang. Itulah alasan mengapa saya bisa mengangkatnya dengan ringan. Tiba-tiba saya tersadar, dia telah mengubur begitu banyak rasa sakit dan kepahitan di dalam hatinya. Tanpa sadar saya mengulurkan tangan dan menyentuh kepalanya.

Anak kami masuk dan berkata, “Ayah, waktunya membopong mama keluar.” Baginya, melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian penting dari hidupnya. Istri saya menunjuk ke anak kami untuk mendekat dan memeluknya erat-erat. Saya membalikkan wajah sebab saya takut saya akan berubah pikiran pada menit terakhir ini. Saya kemudian memeluknya dalam pelukanku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya mengelayut lembut di leherku. Saya menyanggah badannya dengan kuat, seperti saat hari pernikahan kami. Tapi berat badannya yang jauh lebih ringan membuat saya sedih.

Pada hari terakhir dari waktu satu bulan yang dia minta, saat saya memeluknya saya hampir tidak bisa bergerak selangkahpun. Anak kami telah pergi ke sekolah. Saya memeluknya dengan kuat dan berkata, “saya tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra.”

Saya bergegas pergi ke kantor dan melompat keluar dari mobil tanpa sempat mengunci pintu. Saya takut keterlambatan akan membuat saya berubah pikiran. Saya berjalan di lantai atas dan bertemu dengan Dew. Saya berkata padanya, “Maaf, Dew, saya tidak ingin bercerai dengan istriku.”

Dew menatapku, tercengang. Kemudian menyentuh dahiku, “Apakah kamu demam?” Katanya.

Saya pindahkan tangannya dari kepalaku, “maaf, Dew,” kataku, “Saya tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan karena dia dan saya tidak menghargai setiap momen kecil kehidupan kami. Bukan karena kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang saya menyadari bahwa sejak saya membawanya ke rumah saya pada hari pernikahan kami saya seharusnya memeluknya sampai kematian yang memisahkan kami.”

Dew kemudian berdiri. Dia memberi saya tamparan keras, kemudian membanting pintu dan menangis. Saya menuruni tangga dan pergi. Di toko bunga di pinggir jalan, saya memesan karangan bunga untuk istri saya. Pramuniaga bertanya apa saya ingin menulis sesuatu pada kartu. Saya tersenyum dan menulis: “Saya akan membawamu keluar setiap pagi sampai kematian memisahkan kita.”

Menghargai setiap momen kecil dalam hidup kita adalah hal penting dalam sebuah hubungan. Ini bukan rumah, mobil, properti, dan saldo bank yang penting. Semua itu hanya sebagai alat dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk kebahagiaan, tetapi tidak bisa memberikan kebahagiaan dalam arti yang sebenarnya. Jadi, temukanlah waktu untuk menjadi teman bagi pasangan Anda dan lakukanlah hal-hal kecil untuk saling membangun keakraban. Dan… selamat menikmati kehidupan pernikahan yang nyata dan bahagia!

Artikel ini diterbitkan dalam zawaj.com dan penulis cerita tidak menyebutkan namanya.

(Ameera/Arrahmah.com)

Komentar

Postingan Populer