Panggilan Nakhoda

Tak kurang-kurang Allah SWT memaparkan iktibar di depan kita. Betapa banyak, seseorang yang kemarin sangat kaya bergelimang harta, hari ini mendadak miskin. Bahkan seseorang tampak sehat dan kuat di pagi hari, tiba-tiba sakit dan lemah lunglai di sore hari.
Orang rakus (ilustrasi).  whatislistening.com
Lantas mengakhiri kehidupannya yang fana karena saat itu dijemput malaikat maut untuk memasuki kehidupan barunya di alam barzah, suatu alam transito menuju alam akhirat.

Pekerjaan mengumpulkan harta kekayaan yang kita lakukan selama sehat dan kuat telah meningkatkan harkat dan martabat kita menjadi orang sukses atau setidaknya di atas rata-rata kebanyakan orang di sekeliling kita.

Tetapi, kesuksesan itu sedikit demi sedikit merenggangkan kedekatan kita kepada Allah SWT. Kita lupa, segala yang kita miliki, termasuk roh kita, sejatinya hanyalah titipan Allah dan kapan saja Allah berhak mengambilnya.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, sesungguhnya dia akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali pernah menyampaikan iktibar. Perjalanan manusia itu ibarat penumpang sedang diajak berlayar sang nakhoda menuju pulau harapan. Lalu, di tengah perjalanan diajak sang nakhoda mampir di sebuah pulau kecil nan indah.

Sang nakhoda mengumumkan kepada seluruh penumpang kapal, “Para penumpang dipersilakan mampir sebentar di pulau kecil itu, tapi bergegaslah naik di kapal kembali apabila sewaktu-waktu aku memanggil kalian.”

Beramai-ramailah penumpang turun ke pulau itu. Namun, mereka ternyata terbagi atas tiga kelompok. Kelompok pertama, begitu menginjakkan kaki di pulau itu, mereka hanya mengambil barang seperlunya, lalu naik ke kapal kembali.

Kelompok ini sedikit sekali. Mereka takut ketinggalan kapal. Kelompok kedua begitu menginjakkan kaki di pulau, mereka berramai-ramai mengambil manfaat dengan bermacam-macam kegiatan dan pekerjaan.

Tetapi selama mereka sibuk, mereka tetap nguping barangkali sang nakhoda memanggilnya sehingga mereka tidak akan ketinggalan kapal. Kelompok kedua ini lebih banyak daripada kelompok pertama.

Sedangkan kelompok yang ketiga, kelompok yang paling banyak daripada kelompok pertama dan kedua. Setelah mereka turun di pulau itu, mereka terpukau dengan keindahan dan kelezatan yang ada di dalamnya.

Dengan gegap gempita mereka mengambil manfaat itu dengan terus bekerja dan bekerja. Bahkan ada yang dengan segala cara mereka ingin menguasainya hingga mereka terlena dan lupa pesan sang nakhoda, padahal nakhoda telah memanggilnya.

Kelompok ketiga terus bersaing satu sama lain, sampai-sampai pulau itu terasa sempit bagi mereka dan nyaris habis kandungannya karena diperebutkan sesama mereka. Akhirnya, kelompok yang terbanyak ini pun ketinggalan kapal.

Kelompok pertama merupakan orang-orang beriman dan saleh yang ingin segera terhindar dari kehidupan duniawi yang penuh dosa ini. Mereka ingin segera bertemu dengan Tuhannya. Mereka adalah orang-orang wara, zuhud, dan ikhlas.

Kelompok kedua adalah orang-orang beriman, namun mereka belum siap mati karena ingin memperbaiki amal perbuatannya untuk akhiratnya. Mereka terus mengejar dunia, tetapi terus pula beramal saleh dengan hartanya. Bahkan, hartanya yang melimpah itu didedikasikan untuk agama Allah semata. 

Kelompok ketiga merupakan orang-orang yang sangat mencintai dunia atau kelompok materialisme. Mereka beranggapan manusia paling mulia adalah yang berkuasa dan kaya harta.

Dari kisah iktibar di atas, Al-Ghazali berpesan agar dalam posisi dan kerja apa pun, semestinya kita selalu ingat mati.

Ini menghindarkan kita dari keserakahan dan cinta dunia. Ingat mati mendorong kita berada pada jalan yang lurus dan akan mendekatkan diri kita kembali Allah SWT.


Oleh: Masrum Muhammad Noor/Republika

Komentar

Postingan Populer