Islam; Nabi Muhammad SAW dan Konspirasi Barat

Ketika berada di bulan kelahiran manusia teragung sepanjang zaman ini, saya seolah-olah ingin kembali ke kampung halaman nan jauh di sana. Iya, kampung halaman di mana ketika bulan Maulid tiba. Para pengurus Masjid dan masyarakat setempat sibuk mempersiapkan acara peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Uniknya setiap Masjid atau Surau mengambil kesempatan ini secara bergiliran. Ada yang mengadakannya di awal bulan, di pertengahan, atau di akhir bulan. Maka, otomatis selama sebulan penuh semarak Maulid Nabi sangat kental sekali.

Acara peringatan Maulid Nabi diadakan secara sederhana saja, para pengurus tiap-tiap Masjid mengundang seorang Ustadz untuk memberikan ceramah (Tausiah) satu atau dua jam saja di depan para Jamaah masyarakat setempat dan para tamu undangan dari kampung-kampung sebelah.

Jamaah yang datang berduyun-duyun untuk menghadiri acara peringatan ini merupakan pemandangan yang sangat menyejukkan. Bagaimana tidak, saudara-saudara dari kampung tetangga yang mungkin sangat jarang bertemu untuk bertegur sapa. Saat itu saling kunjung-mengunjungi Masjid kampung masing-masing, berkumpul dalam satu Majelis peringatan hari kelahiran insan yang sangat mereka cintai, yakni Nabi Muhammad SAW.

Sungguh indah persaudaraan mereka. Sungguh indah sebuah persatuan dalam Syiar Islam. Tak pernah kami mendengar kata Bid’ah dan membid’ahkan di sana, sesat-menyesatkan, yang saat ini sudah ramai dibicarakan di kota-kota. Sampai kami bosan dibuatnya.

Jika saya boleh berceloteh, berhentilah berdebat tentang hukum memperingati Maulid Nabi. Bagi saudara-saudara yang berpendapat bahwa Maulid Nabi adalah Bid’ah dan Haram, silakan pegang pendapat kalian. Berhentilah mengkafirkan saudara-saudara kalian yang tak sepaham dengan kalian. Biarlah mereka tetap dengan pendapat mereka, dan kalian tetap dengan pendapat kalian. Toh, masing-masing mempunyai dalil yang bisa dipertanggungjawabkan. Karena saat ini musuh kita yang anti Islam sangat banyak dan lihai berkonspirasi. Mereka sudah bermain di semua lini untuk menghancurkan citra Islam dan para pemeluknya. Bagaimana kita bisa menghadapi mereka, jika kita sendiri diributkan oleh hal remeh-temeh di internal kita. Bagaimana persatuan Umat bisa tercipta untuk menghadapi mereka, jika kita sendiri sibuk saling Bid’ah-membid’ahkan, saling Kafir-mengkafirkan, bahkan saling curiga-mencurigai.

Kami mengajak kalian berhenti sejenak (jika tidak mau berhenti selamanya) membahas tentang Bid’ah membid’ahkan Maulid Nabi SAW. Coba kita tolehkan wajah kita sejenak ke dunia Barat yang bisa kita katakan sebagai pusat anti Islam atau Islamphobia sedang dibangun saat ini. Mereka tak pernah bosan, bahkan tak akan pernah bosan membangun citra negatif tentang Islam. Mereka bergerak sangat gesit dan lincah mencari titik lemah untuk membenarkan propaganda mereka, bahwa Islam adalah Agama kekerasan, Teroris dan Fitnah-fitnah kejam (keji) lainnya.

Sampai saat ini, sudah berapa banyak serangan mereka terhadap Islam dan Nabi Muhammad SAW. Mereka selalu menghina Islam dan Muhammad dengan berbagai cara. Baik melalui Media Cetak seperti Koran, Majalah, Buku-Buku; maupun melalui Media Elektronik berupa Film atau Berita yang tak berimbang.

Kalian tentu masih ingat dengan Novel “Satanic Verses (Ayat-Ayat Setan)” yang ditulis oleh Salman Rusdie, film pendek yang berjudul “Fitna” yang dipelopori oleh Geert Wilders di Belanda, dan penayangan kartun Nabi Muhammad SAW di harian Jillands Posten di Denmark, atau yang baru-baru ini “ The Innocence of Muslim “. Sebuah film tak bermutu yang menghina dan melecehkan Islam dan Nabi Muhammad SAW.

Coba kita menerawang sejenak tingkah polah mereka itu, seakan ada sebuah konspirasi yang mereka olah di sana. Mereka sengaja melakukan hal kontroversial itu karena ingin memancing atau memprovokasi umat Islam dunia. Mereka ingin membakar emosi Umat Islam dan mencari pembenaran akan propaganda-propaganda mereka. Bahwa Islam adalah Agama yang brutal. Sayangnya, banyak di antara kita yang tanpa sadar telah masuk dalam perangkap keji mereka ini. Aksi-aksi brutal atau anarkisme dalam menanggapi pelecehan mereka hanya mencoreng image Islam itu sendiri, dan memang itu yang mereka inginkan. Memang sulit, karena di satu sisi Islam dilecehkan, dan di sisi yang lain kita dituntut untuk bijak menghadapi hal ini. Karena jika Umat Islam tidak bijak dalam menanggapi masalah ini. Maka, Umat Islam itu sendiri yang menambah panjang pelecehan tersebut.

Wajar jika kita emosi saat Agama kita dihina, saat Nabi junjungan kita dilecehkan, karena itu adalah bukti bahwa kita masih mencintai Agama yang kita anut, masih menyayangi kekasih kita Nabi Muhammad SAW. Namun, tentu kita harus pandai-pandai juga mengolah emosi tersebut. Agar kita tak terperosok dalam jebakan mereka yang anti Islam. Luapan emosi harus tetap dalam koridor al-Qur’an dan apa yang dicontohkan oleh Baginda Nabi dalam Sunnahnya.

Dr. Zakir Naik dalam wawancara eksklusif pada salah satu channel televisi Islam di negeri jiran Malaysia, memberikan enam strategi dalam menyikapi pelecehan Barat tersebut:

Pertama:

Umat Islam harus membentuk sebuah badan organisasi pengacara Muslim internasional, yang dipilih dari pengacara-pengacara terbaik dari Negara-negara berbasis Islam. Hal ini lanjut beliau, agar pelaku pelecehan atau pihak yang mendukung aksi pelecehan terhadap Islam dan Nabi Muhammad SAW. Dapat diadukan ke Mahkamah Internasional. Walaupun tipis harapan untuk mendapatkan keadilan dalam hal ini, tapi Umat Islam harus berusaha.

Kedua:

Setiap pemerintah Negara-Negara berbasis kekuatan Islam, harus melakukan protes secara resmi melalui Kementerian Luar Negeri terhadap Kedutaan Negara dan para pelaku pelecehan. Tanpa rasa takut merenggangnya hubungan antar kedua Negara. Karena membela Islam dan Muhammad itu lebih berharga daripada membela diri sendiri.

Ketiga:

Melakukan balasan secara intelektual. Jika pelaku pelecehan menggunakan media film dalam propaganda mereka. Seperti film “The Innocence of Muslim”. Maka, Umat Islam harus melakukan klarifikasi dengan pembuatan film yang menceritakan tentang Sirah Nabi Muhammad yang sesungguhnya. Jika media yang mereka gunakan melalui buku-buku kebohongan yang mereka tulis. Maka, Umat Islam harus menulis buku-buku untuk mengklarifikasi kebohongan mereka tersebut.

Keempat:

Negara-Negara Islam harus berani melakukan embargo atau pembatasan impor terhadap Negara pelaku yang bersangkutan atau pihak yang mendukung aksi pelecehan tersebut. Seperti mana yang pernah dilakukan oleh Negara-negara teluk sebagai reaksi pelecehan penayangan kartun Nabi Muhammad yang dimuat harian Jillands Posten di Denmark. Saat itu Denmark mengalami kerugian besar, mencapai satu Billion Dollar.

Kelima:

Umat Islam seluruh dunia harus melakukan protes kepada pelaku, Negara tempat tinggalnya, atau pihak yang terlibat dalam pelecehan tersebut dengan melalui Email, Surat atau Faks.

Keenam:

Melakukan demonstrasi damai dengan turun ke jalan. Tanpa ada tindakan anarkisme atau perusakan alat-alat publik.

Itulah enam strategi yang dianjurkan oleh Dr. Zakir Naik. Beliau merupakan seorang Orator Muslim asal India yang sangat dikenal dunia saat ini melalui orasi-orasi Ilmiah Beliau.

Terakhir, di saat Islam, Nabi Muhammad serta para pengikutnya sering mendapat pelecehan atau diskriminasi oleh kelompok Islamphobia di negeri Barat sana. Sudah saatnya kita merapatkan barisan, berhenti mempermasalahkan perbedaan-perbedaan Furu’iyyah yang tak akan pernah ada titik temunya. Menahan diri untuk tidak mengkafirkan sesama. Karena Islam harus bersatu dalam naungan bendera Islam. Dalam naungan Syahadat yang sama.

Mari kita kembali memahami dan menghayati ajaran Agama yang kita anut, mencontoh dan menerapkan Akhlak Rasulullah dalam setiap napas kehidupan. Agar mereka yang anti Islam tau, bahwa inilah Islam yang sesungguhnya. Inilah keluhuran Akhlak Rasulullah SAW. Mari bersama-sama kita berusaha melandasi tingkah polah kita sesuai anjuran Al-Qur’an dan Sunnah. Agar melalui wajah-wajah kita, Islam nampak anggun berwibawa dan mereka yang anti (memusuhi) Islam menyadari bahwa mereka telah keliru menilai Islam saat ini. Allahu Musta’an.

Herdiansyah

Komentar

Postingan Populer