'Laa ilaaha il'lallah' adalah Pemisah

Bismillahirrahmaanirrahiim, 

Suatu hari kang Otong sahabat lama datang berkunjung. Dalam larut pembicaraan nostalgia kenangan demi kenangan, lalu muncullah sebuah pertanyaan, apakah bisa atau mungkin kita masuk ke dalam keislaman atau kehidupan yang islami tanpa harus meninggalkan persahabatan dengan teman-teman lama yang masih dalam kehidupan keseharian yang tidak islami, bahkan malah jauh dari menjalankan perintah Allah SWT?. 

Seorang akhwat dalam sebuah kesempatan pun pernah bertanya hal yang sama. Karena dia telah mulai mengenakan jilbab, tetapi sertamerta teman-temannya, sahabatnya perlahan tapi pasti meninggalkannya. Alasannya, akhwat ini setelah mengenakan jilbab, “udah ngga funky lagi” begitu ujar teman-temannya. Na’uudzubillah

Pertanyaan yang serupa tapi tak sama ini menitikberatkan pada pertanyaan “Sesungguhnya apakah yang memisahkan, apa betul haruskah berpisah?”. Mungkin kita bisa menjawabnya dengan perumpamaan bahwa air dan minyak bisa bersama tetapi mereka tidak bisa menyatu. Dan untuk memahami ilustrasi tersebut mari kita simak penjelasannya sebagai berikut;

Al kisah menyebutkan pada awal dakwah Nabi Muhammad SAW dalam pertemuan yang lebih besar. Ia pergi ke Bukit Shafa, sambil berdiri di sana beliau berteriak memanggil orang banyak. Karena Nabi Muhammad SAW adalah orang yang terpercaya, penduduk yakin bahwa pastilah terjadi sesuatu yang sangat penting, sehingga mereka pun berkumpul di sekitar Nabi Muhammad SAW. 

Untuk menarik perhatian, mula-mula Nabi Muhammad SAW berkata, “Saudara-saudaraku, jika aku berkata, di belakang bukit ini ada pasukan musuh yang siap menyerang kalian, percayakah kalian?” Dengan serentak mereka menjawab, “Percaya, kami tahu engkau belum pernah berbohong. Kejujuranmu tidak ada duanya. Karena itulah engkau mendapat gelar Al Amin (yang terpercaya).” 

Kemudian Nabi SAW meneruskan, “Kalau demikian, dengarkanlah. Aku ini adalah seorang naazir (pemberi peringatan). Allah telah memerintahkanku agar aku memperingatkan saudara-saudara. Hendaknya kamu hanya menyembah Allah saja. Laa ilaaha il'lallah, Tidak ada Tuhan selain Allah.” 

Tapi khutbah ini ternyata membuat orang-orang yang berkumpul itu marah, bahkan sebagian dari mereka ada yang mengejeknya gila. Pada saat itu, Abu Lahab berteriak, “Celakalah wahai engkau Muhammad. Hanya untuk inikah engkau mengumpulkan kami?”

Itulah salah satu kisah asbabun nuzul atau sebab turunnya surat Al lahab, tetapi yang akan kita garis bawahi dari kisah tersebut adalah satu ucapan kalimat “Laa ilaaha illallah”, yang tadinya mereka percaya kepada Muhamad SAW yang dijuluki Al Amin, tetapi hanya karena kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” lalu merekapun mengingkarinya. Dan kemudian terpisahlah manusia-manusia yang beriman kepada kalimat itu dan yang tidak mau beriman. 

Dan jika kita flashback jauh sebelum ini kalimat yang sama pula yang memisahkan Nabi Nuh AS dengan istri dan anaknya, Nabi Ibrahim AS dengan ayahnya, ya inilah kalimat yang memisahkan antara orang-orang yang beriman dan yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya. Tidak pandang bulu antara teman, sahabat, saudara bahkan ayah, ibu serta anak dapat terpisahkan oleh kalimat Laa ilaaha illallah. Kalimat yang sangat mudah untuk diucapkan tetapi sangatlah berat untuk diamalkan.

Dengan konsekwensi ucapan Laa ilaaha illallah/tiada Tuhan selain Allah, maka dasar fundamen keyakinanpun ditanamkan dalam hati, ditegakkan dalam dada, dan dalam implementasi amal menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh laranganNya. Setelah itu otomatis, tata cara keseharianpun akan mengikuti petunjuk Allah dan RasulNya. Seperti dalam Al Qur’an Allah berfirman:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNYA dalam (menjalankan) agama yang lurus,…” (QS. Al Bay'yinah, 98 : 5)

Mukhlishiina lahud diin, atau memurnikan ketaatan dalam menjalankan agama atau diin yang lurus. Dapat dipahami dengan melakukan tata cara keseharian sesuai dengan petunjuk Allah dan RasulNYA.

Memang jika kita pahami arti dari kata Agama yang berasal dari diin, yang lebih diartikan dengan the way of life atau tata cara keseharian dalam kehidupan kita, dari mulai bangun tidur, beraktifitas terus sehingga tidur dan bangun lagi. Itulah arti dari agama atau diin. Dan dengan pemahaman itu Islam mengajarkan lewat Al Qur’an dan As Sunnah untuk melewati keseharian dengan keislaman.

Islam dari akar kata aslama dapat diartikan juga dengan selamat atau dalam arti yang lain adalah berserah diri kepada hukum dan ketetapan Allah SWT. Otomatis jika dalam konteks pertemanan atau persahabatan, maka boleh jadi jika ada seseorang dalam suatu kelompok yang meninggalkan kebiasaan yang satu kepada kebiasaan yang lain (atau meninggalkan kebiasaan yang tidak islami kepada kebiasaan yang Islami) maka mereka akan berpisah, dikarenakan mereka sudah tidak ada kesamaan kebiasaan lagi.

Ilustrasinya jika mereka terbiasa bersama-sama meminum khamr tetapi kemudian salah satu dari mereka meninggalkan kebiasaan itu, boleh jadi mereka mulai agak berbeda. Kemudian jika biasanya mereka melakukan kebiasaan lain yang dilarang oleh Allah dan RasulNya kemudian salah satu di antaranya meninggalkan kebiasaan itu, mestilah semakin hari semakin berbeda dan semakin berjarak yang akhirnya berpisah. Walaupun pada awalnya mereka bersahabat.

Semua itu pastilah terjadi dikarenakan Allah memisahkan yang haq dan yang bathil dengan sejelas-jelasnya. Seperti di dalam ayat Al-Quran:
“Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang haq dan yang bathil”. (QS. Ath Thaariq, 86 : 13)

Dan ketika orang-orang yang sudah masuk ke dalam keislaman dalam kesehariannya dan mencoba memurnikan kesehariannya, pastilah dengan otomatis akan menjauhkan diri atau bahkan dijauhkan dari lingkungan yang buruk, sebagaimana ayat:
“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan Furqaan….” (QS. Al Anfaal, 8 : 29)

Furqon dalam ayat ini dapat diartikan sebagai petunjuk yang membedakan antara yang haq dan yang bathil, dan dapat juga diartikan sebagai pertolongan.

Kembali kepada pertanyaan Kang Otong dan Akhwat di atas apakah tidak bisa menyatu? Apa yang sebenarnya memisahkan? Seperti ilustrasi air dan minyak di atas bisa bersama tetapi tidak bisa menyatu, akidah-lah yang akan memisahkan. Dan dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa salah satu orang-orang yang mendapat naungan perlindungan di hari akhir adalah orang yang bertemu dan berpisah karena Allah.

Semoga para sahabat-sahabat itu memperoleh hidayah dengan kembali ke jalan Allah, agar kita dapat selalu bergandengan beriringan bersama berjuang dalam menegakkan hukum Allah di dalam hati, dalam diri, dimanapun di muka bumi ini. Aamiin, Ya Rabbal ‘Aalamiin.

Tidaklah lebih baik dari yang menulis ataupun yang membaca, karena yang lebih baik di sisi Allah adalah yang mengamalkannya.

Celoteh Kang Erick Yusuf

Komentar

Postingan Populer