Etika Dokter Dalam Islam

Sepanjang sejarah perkembangan ilmu kedokteran dalam peradaban manusia terdapat kode etik yang telah disepakati sekalipun secara tidak tertulis. Terdapat sifat mendasar yang melekat secara multak pada diri seorang dokter.
Praktik kedokteran Islam tempo dulu (ilustrasi).
Beberapa sifat ketuhanan sering diidentikkan pada pribadi dokter, seperti bijaksana, kemurnian niat, keluhuran budi, profesionalisme, integritas ilmiah dan sosial, serta kesejawatan yang tidak diragukan.

Etika tersebut dari masa ke masa mengutamakan penderita yang berobat serta demi keselamatan dan kepentingan penderita. Etika ini sendiri memuat prinsip-prinsip, yaitu beneficence, non maleficence, autonomy, dan justice.

Taruh saja, misalnya, sosok Inhotep dari Mesir, Hippocrates dari Yunani, dan Galenus dari Roma merupakan beberapa ahli pelopor kedokteran kuno yang telah meletakkan sendi permulaan untuk terbinanya suatu tradisi kedokteran yang mulia.
Pada zaman keemasan Islam, berbagai etika tersebut dielaborasikan dan disempurnakan dengan ajaran dan prinsip-prinsip Islam. Adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakariyya ar-Razi 313 H/925 M, pelopor kedokteran di dunia Islam selain Ibnu Sina, mengarang sebuah kitab yang berjudul Akhalaq At Thabib.

Kitab asli yang berjudul Risalat li Abi Bakar Muhammad bin Zakariyya Ar Razi ila ba'dhi talamidzihi berisi tentang petuah bijak sang maestro terkait pola interaksi antara pasian dan dokter berikut prinsip-prinsip yang harus diperhatikan oleh kedua belah pihak.

Dalam konteks buku ini, murid yang dimaksud dan sering dijadikan tujuan surat ialah Abu Bakar bin Qarib ar-Razi. Salah satu murid kesayangannya tersebut, kala itu, sedang menerima panggilan dari pemimpin Khurasan untuk memegang jabatan sebagai kepala kedokteran atas permintaan penguasa wilayah Persia saat itu. Sayangnya, ar-Razi sendiri-seperti kebiasaannya di setiap karyanya-tidak menyebutkan siapakah pemimpin yang dimaksud.


***
Pujian dan doa
Kitab ini memuat sebanyak 26 poin risalah. Mengawali bukunya dengan pujian dan doa, tokoh kelahiran Rayy, Persia, ini hendak menunjukkan dan meneladankan bagaimana hubungan selayaknya antara murid dan guru. Dalam suratnya tersebut, sosok yang menyandang gelar Bapak Kedokteran Arab itu menuliskan apresiasi dan ucapan selamat kepada muridnya, Ibnu Qarib, atas kepercayaan yang diberikan oleh pemimpin Khurasan.

Bila ditelusuri, jiwa pendidik dan sikap mengayomi didedikasikan tidak hanya berlaku pada satu murid. Dalam banyak kesempatan, figur yang terkenal dengan panggilan Rhazes di dunia kedokteran Barat itu sangat perhatian dengan murid-muridnya. Secara khusus, bahkan ia pernah mengarang kitab yang bertajuk Al Asrar untuk muridnya, Muhammad bin Yunus.

Karya yang ditulisnya itu berisikan tentang teori matematika dan ilmu biologi. Sebuah contoh elegan dari seorang guru sekaligus pendidik sangat bermakna. Keteladanan yang kini sangat dirindukan di dunia pendidikan. "Semoga Allah memberikan taufik selalu kepadamu untuk berkhidmat pada pemimpin," tulis ar-Razi yang merupakan murid tokoh kenamaan Ali Ibnu Suhal Ibnu Rabban ath-Thabari kepada Ibnu Qarib.

Ar-Razi lantas mengingatkan muridnya bahwa dalam aktivitas medis, yang paling sulit ialah mengobati dan mengurus penguasa, kaum borjuis, dan para wanita. Profesi seorang dokter dikenal independen dan tak bisa diatur, tetapi semuanya itu, menurut ilmuwan pengulas pertama ekstraksi katarak dan reaksi pupil mata itu, bisa jadi tidak berlaku di hadapan golongan-golongan tersebut.

Apalagi, bila mereka tidak tahu-menahu tentang seluk-beluk pengobatan, kemungkinan akan cukup kerepotan. Pernah suatu ketika seorang dokter meminta seorang pejabat berpengaruh untuk menghindari makanan atau minuman lantaran dikhawatirkan bisa memperburuk kondisinya.

***
Sontak, bagi mereka yang hidup dengan kemewahan dan tiap harinya menyantap menu-menu lezat, permintaan dokter itu mustahil dikabulkan. Bagi dokter, tidak ada kata menyerah. Petunjuk dan arahannya merupakan rambu-rambu yang tidak bisa dilanggar. "Soal medis, dokter sama kedudukannya dengan seorang raja, ia bisa mengeluarkan perintah dan lazim ditaati, tetapi tidak bisa diperintah," demikian ar-Razi memberikan saran menghadapi golongan-golongan elite itu.

Kerap berinteraksi dengan berbagai tipe dan karakter pasien, dokter dituntut memiliki wawasan yang luas, demikian ungkap tokoh yang disebut-sebut sebagai Galenus Arab itu. Menurutnya, penguasaan dokter terhadap bidang yang ditekuni dan diperkuat dengan disiplin ilmu lainnya akan sangat membantu mempererat dan menambah kepercayaan pasien terhadapnya.

Masyarakat memosisikan dokter sebagai pakar dan ahli berbagai penyakit dan mampu menyembuhkannya. Sama halnya ketika mereka yakin betul bila seorang mendaulatkan diri sebagai seorang dukun atau paranormal, maka pasti dianggap mengetahui segala hal, tak terkecuali perkara yang ghaib.

Maka, menjadi keniscayaan bagi dokter agar terus memperbanyak wawasan dan memperdalam ilmunya. Hal ini bisa dilakukan dengan berkonsultasi pada pakar yang lebih ahli ataupun dilakukan secara autodidak melalui telaah referensi-referensi utama kedokteran.

Penulis kitab kedokteran monumental bertajuk Al Hawi itu mengingatkan kategorisasi penyakit. Secara garis besar, jenis penyakit- dilihat dari segi kemungkinan sembuh atau tidaknya- dibagi menjadi tiga. Pertama, penyakit yang tergolong jenis yang sangat mungkin sembuh. Contohnya seperti demam atau sakit kepala akibat sengatan sinar matahari.

Kedua ialah penyakit yang relatif mungkin sembuh dengan penanganan yang intensif, seperti penyakit demam akibat trombosit turun atau faktor kelelahan. Sedangkan, kategori yang terakhir ialah penyakit yang tipis kemungkinannya untuk sembuh seperti kanker. "Bila penyakit tetap sulit diobati, maka kondisi semacam ini di luar batas kemampuan dokter," tulis ar-Razi.
 
 Oleh Nashih Nashrullah

Komentar

Postingan Populer